Ada fakta pahit di lapangan: Kecelakaan kerja seringkali menimpa pekerja senior yang sudah sangat ahli, bukan anak baru yang masih belajar.
Kenapa? Bukankah skill mereka sudah tingkat dewa?
Di sinilah letak jebakannya. Banyak orang salah kaprah. Mereka mengira kalau sudah jago teknis, otomatis mereka aman.
Padahal, Skill (Keahlian) dan Safety Awareness (Kesadaran) adalah dua hal yang berbeda.
- Skill berguna agar pekerjaan cepat selesai.
- Awareness berguna agar Anda pulang dengan selamat.
Tanpa Awareness, skill setinggi langit pun tidak ada gunanya saat bahaya datang.
Bahaya Mode Auto-Pilot
Otak manusia itu unik. Saat kita melakukan pekerjaan yang sama bertahun-tahun, otak kita masuk ke mode Auto-Pilot.
Tangan bergerak sendiri karena hafal, tapi pikiran melayang ke mana-mana. Kita bekerja secara otomatis tanpa berpikir lagi.
Dalam kondisi inilah Safety Awareness Mati. Insting waspada hilang. Kita tidak lagi melihat lantai licin atau kabel terkelupas sebagai ancaman, karena merasa Ah, biasanya juga aman.
Tahu Belum Tentu Sadar
Inilah inti masalahnya: Mengetahui aturan tidak sama dengan mematuhi aturan.
- Pekerja TAHU helm itu wajib. (Ini Skill/Pengetahuan).
- Tapi apakah dia SADAR bahwa baut kecil yang jatuh dari atas bisa meretakkan kepalanya? (Ini Awareness).
Orang yang hanya Tahu akan pakai APD saat ada mandor. Orang yang Sadar akan pakai APD demi nyawanya sendiri, ada atau tidak ada mandor.
Kesimpulan
Jangan bangga dulu jika tim Anda isinya orang-orang pintar secara teknis. Keahlian teknis hanya menyelamatkan karir mereka.
Tapi hanya Safety Awareness yang bisa menjadi perisai di detik-detik tak terduga.
Sudahkah Anda menanamkan perisai ini di benak karyawan Anda?
Hubungi Sertifikasi Indonesia untuk program Training Safety Awareness. Kami bantu ubah mentalitas tim Anda dari sekadar Jago Teknis menjadi benar-benar Sadar Selamat.
Baca juga: Apa Itu PJK3? Pengertian, Jenis, dan Peran Pentingnya

